OJK Lampung & Pemprov Lampung Bahas Terobosan Keuangan: Obligasi Daerah, Ekonomi Hijau, dan Pemberdayaan Desa

BANDAR LAMPUNG – Di tengah tekanan penurunan Transfer ke Daerah dan keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung bersama Pemerintah Provinsi Lampung meramu strategi pembangunan yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Pertemuan strategis yang digelar Rabu (3/6/2026) ini menjadi bukti nyata komitmen bersama untuk memastikan laju pembangunan tidak terhenti, sekaligus mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8%.
Dalam forum tersebut, Kepala OJK Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, bersama Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Lampung, Dr. Ir. Mulyadi Irsan, MT., membahas tiga agenda utama yang saling berkaitan: penerbitan obligasi/sukuk daerah, penyusunan peta jalan pengelolaan karbon, serta pengembangan program Desaku Maju Agrifuture. Ketiganya dirancang untuk membangun fondasi ekonomi Lampung yang lebih kuat, inklusif, dan ramah lingkungan.
Obligasi/Sukuk Daerah: Solusi Cerdas Tanpa Membebani Masa Depan
Instrumen obligasi dan sukuk daerah hadir sebagai alternatif pembiayaan inovatif yang dinilai sangat strategis. Berbeda dengan skema pendanaan konvensional, instrumen ini menawarkan sejumlah keunggulan: pembayaran pokok yang fleksibel saat jatuh tempo, kebebasan menentukan imbal hasil dan jangka waktu, fitur pembelian kembali tanpa denda, serta fleksibilitas pencairan dana sesuai tahapan proyek.
“Ini bukan sekadar mencari dana tambahan, melainkan langkah mendiversifikasi sumber pendapatan dan memperbaiki tata kelola keuangan daerah. Masyarakat pun diberi kesempatan untuk berinvestasi secara aman sekaligus mengawasi penggunaan dana pembangunan,” jelas Otto.
Dana yang dihimpun nantinya akan dialokasikan untuk proyek-proyek prioritas: penguatan infrastruktur produktif, pengembangan ekonomi hijau, peningkatan konektivitas, pengelolaan lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Transformasi 2.446 Desa Lewat Agrifuture
Pembangunan merata tidak akan tercapai jika desa tertinggal. Melalui program Desaku Maju Agrifuture, ditargetkan terjadi perubahan status bagi seluruh 2.446 desa di Lampung—dari tertinggal menjadi maju dan mandiri. Sebagai langkah awal, proyek percontohan akan dijalankan di 30 desa yang tersebar di Lampung Tengah, Timur, dan Selatan.
Program ini mengusung konsep terpadu dari hulu hingga hilir, khususnya pada sektor peternakan sapi potong. Mulai dari penyediaan bibit unggul, pakan mandiri, pencatatan digital melalui e-Livestock, hingga pengolahan produk dan limbah tanpa sampah. Dengan skema kemitraan tertutup bersama swasta, risiko usaha dapat diminimalkan. Dalam 12 bulan pertama, ditargetkan terbentuk 300 peternak muda, 30 kelompok usaha, dan 3 koperasi peternak yang mandiri.
Komitmen Bersama Wujudkan Lampung Maju
Dr. Ir. Mulyadi Irsan menegaskan bahwa Pemprov Lampung segera membentuk tim khusus untuk melakukan kajian mendalam dan menyusun regulasi pendukung. “Kami ingin memastikan setiap langkah yang diambil memberikan dampak nyata dan seimbang, baik bagi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat luas,” tegasnya.
OJK menilai Lampung memiliki potensi ekonomi yang kuat, didukung sektor pertanian, perkebunan, logistik, pariwisata, dan sumber daya alam yang melimpah. “Dengan perencanaan matang dan tata kelola yang baik, terobosan ini akan menjadi katalisator kemajuan. Tujuannya satu: menghadirkan pembiayaan yang sehat demi mewujudkan Lampung yang makmur, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi,” pungkas Otto. (*)
