Samsi, Loper Koran ke Kursi Kepala Desa

Bagikan Berita ini

DIARY – Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan kebun singkong. Di teras rumah bata merah, secangkir kopi hitam tinggal menyisakan sedikit ampas.

Belum lama matahari muncul, seorang warga sudah datang membawa persoalan. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang telah usang dan sulit terbaca menjadi keluhannya pagi itu.

Tidak ada meja pelayanan dengan sekat kaca. Tidak ada antrean panjang. Warga itu cukup datang ke rumah seorang lelaki yang sudah tiga tahun terakhir menjadi tempat masyarakat Negara Nabung menitipkan berbagai persoalan.

Namanya Samsi, warga sekaligus Kepala Desa Negara Nabung kecamatan Sukadana, kabupaten Lampung Timur provinsi Lampung.

Warga lebih akrab memanggilnya “Kepalo Se.”

Bagi Samsi, jabatan kepala desa tidak berhenti pada stempel, tanda tangan, atau rutinitas administrasi. Menjadi kepala desa berarti bersedia membuka pintu untuk masyarakat, bahkan ketika jam kerja telah lama berakhir.

Ponselnya selalu aktif. Sebab, persoalan warga tidak mengenal waktu.

Dua Dekade di Balik Pena

Jauh sebelum duduk di kursi kepala desa, Samsi menghabiskan sebagian besar hidupnya di jalanan jurnalistik.

Sekitar dua dekade ia bersentuhan dengan dunia pers. Kariernya bahkan dimulai dari titik yang sederhana: loper koran.

Saat itu, Samsi membantu mentornya, Ujang Mukhlis, mengantarkan koran Bandar Lampung News kepada para mitra. Dari aktivitas sederhana itu, ia perlahan mengenal dunia jurnalistik.

“Guru pertama saya di dunia Jurnalistik, Bang Ujang Mukhlis,” kata Samsi kepada diary.co.id saat melihat langsung Uji Kompetensi Wartawan (UKW) ke-39 Jenjang Madya, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung di Kantor PWI Lampung Timur, Senin (14/9/2026).

Ia belajar bahwa berita bukan sekadar rangkaian kata. Di balik sebuah berita selalu ada manusia dengan persoalannya.

Pengalaman itulah yang kemudian membuat Samsi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat desa. Ia melihat persoalan warga bukan hanya dari balik meja, melainkan dari lapangan.

Dua puluh tahun menjadi jurnalis akhirnya menanamkan satu keyakinan: masyarakat membutuhkan orang yang tidak hanya mendengar keluhan, tetapi juga berani mencari jalan keluar.

Keinginan itu kemudian membawanya ke panggung pemerintahan desa.

Oktober 2023, Titik Balik

Pada Oktober 2023, Samsi mengikuti proses pencalonan kepala desa.

Ia bukan satu-satunya kandidat. Sejumlah calon ikut bersaing melewati tahapan administrasi dan seleksi. Berbekal pendidikan Sarjana Administrasi Publik (S.A.P) serta pengalaman panjang berinteraksi dengan masyarakat, Samsi berhasil menembus lima besar.

Ia kemudian dipercaya memimpin Desa Negara Nabung yang dihuni sekitar 2.600 jiwa.

Menariknya, perjalanan itu seperti mengulang cerita sang guru. Ujang Mukhlis, mentor Samsi di dunia jurnalistik, lebih dahulu menjadi kepala desa pada 2018.

Kini, murid yang dahulu mengantarkan koran sang mentor itu telah memiliki ruang pengabdian sendiri.

Dari mengabarkan kebijakan, Samsi kini ikut menentukan kebijakan.

Tak Menunggu Ketika Jembatan Putus

Salah satu ujian kepemimpinannya datang ketika jembatan penghubung desa menuju kompleks perkantoran pemerintah daerah terputus akibat luapan sungai.

Akses warga terganggu. Namun Samsi memilih tidak sekadar menunggu proses penganggaran yang membutuhkan waktu. Ia mengajak warga bergotong royong.

Sebagian biaya bahkan dikeluarkan dari kantong pribadinya. Samsi ikut turun tangan memperbaiki jembatan tersebut bersama masyarakat.

Jembatan itu memang belum menjadi bangunan permanen. Tetapi bagi warga, yang terpenting adalah akses kembali terbuka.

Di titik itu, kepemimpinan Samsi terlihat bukan dari seberapa besar anggaran yang dikelola, melainkan dari seberapa cepat ia hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Anak Desa yang Kembali kepada Desanya

Samsi lahir di Negara Nabung, 25 November 1985. Ia merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara, putra dari Siti Nila.

Di luar pemerintahan desa, ia adalah seorang suami dan ayah dari satu putri.

Hidup membawanya melewati jalan yang panjang. Dari loper koran, menjadi jurnalis, hingga akhirnya dipercaya menjadi kepala desa.

Namun ada sesuatu yang tidak berubah: kedekatannya dengan masyarakat.

Dulu ia membawa koran dari satu tempat ke tempat lain. Kini ia membawa persoalan warga ke meja pemerintahan.

Dulu pena menjadi alatnya menyuarakan kehidupan masyarakat. Kini kewenangan yang dimilikinya menjadi amanah untuk memperbaiki kehidupan itu.

Ia tidak benar-benar meninggalkan dunia jurnalistik. Ia hanya memindahkan tempat pengabdiannya, dari balik pena ke tengah masyarakat. (Rizki)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *