Saatnya Menteri BUMN Memilah dan Memilih yang Perlu Diprioritaskan atau Dimusnahkan

DIARY – Berbicara tentang BUMN, terbesit didalam pikiran kita adalah suatu badan milik negara, suatu perusahaan yang bisa memberikan kontribusi keuntungan bagi negara.

BUMN itu sendiri terbagi dalam beberapa usaha. Seperti Pertamina yang bergerak dibidang usaha migas, Bulog yang bergerak dibidang usaha pangan Bank Rakyat Indonesia Persero (BRI) dibidang usaha keuanngan, Maskapai Garuda yang bergerak dibidang usaha perhubungan. P.T PUPUK INDONESIA Persero Holding company yang bergerak dibiang usaha pertanian Serta masih banyak bidang usaha yang lainnya.

Badan usaha milik negara ini di bawah naungan seorang Menteri di kabinet, yaitu Menteri BUMN yang yang pada masa era presiden Jokowi di priode kedua ini dipimpin oleh Menteri BUMN bapak Erick Thohir.

Tetapi disini saya selaku penulis ingin menyoroti kinerja BUMN itu dalam menjalankan roda perusahaannya, yang disini juga menurut pemikiran saya pribadi serta wawasan saya selama ini dan sepanjang sepengetahuan saya pribadi.tentang BUMN.

Sebelum Feature ini saya lanjutkan, izinkan saya mewakili atas nama keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Propinsi Lampung. Mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya Kepada Bapak Erick Thohir selaku Menteri BUMN. melalui PT PUPUK INDONESIA persero Holding company yang telah mensponsori Uji Kompetensi Wartawan ( UKW ) ke- 32 di provinsi Lampung secara gratis. Pada hari Selasa dan Rabu tanggal ( 10-11/1/2024 ) di Hotel Emersia Bandar Lampung.

Dengan tema PWI dan BUMN ” Menciptakan Wartawan profesional dan Berakhlak” , Uji kompetensi wartawan tersebut di buka oleh Gubernur Lampung Arinal di Junaidi. Dan hadiri oleh Sekertaris Jendral PWI Pusat Sayid Iskandarsyah, Ketua PWI Lampung Wirahadikusumah, Direktur UKW PWI. Dr Firdaus Komar, Sekertaris Jenderal PWI Lampung Andi S Panjaitan , VP Komonikasi Korporat Pupuk Sriwijaya Palembang Rustam Effendi dan kadiskominfotik Achmad Syafullah.

UKW ke-32 ini diikuti oleh 35 peserta yang terbagi dalam dua tingkat. terdiri dari Tingkat wartawan Madya berjumlah sembilan peserta. Dan tingkat Wartawan Muda berjumlah dua puluh enam peserta.

Ok, saya lanjutkan ke feature lagi pembaca untuk membahas polemik- polemik yang ada di BUMN, suatu badan yang merupakan usaha yang dimiliki negara untuk menghasilkan pundi-pundi keuntungan bagi bangsa Indonesia negara kita tercinta ini.

Badan usaha yang di harap oleh negara agar bisa menghasilkan laba atau keuntungan untuk menambah devisa negara kita untuk modal meneruskan pembangunan baik struktural maupun infrastruktur.

Tapi apa pembaca sungguh sangat miris sekali, selama ini menurut saya sebagian dari BUMN itu tidak lebih hanya seperti badan usaha amal, hanya sebagai kaki tangan pemerintah untuk meneruskan program- program pemerintah yang berkuasa sa,at dulu maupun sekarang.

Disini saya mengambil salah satu contoh BUMN yaitu perum Bulog, karna di sini saya pernah bekerja selaku buruh disebuah gudang Bulog yang ada didesa saya.Jadi sedikit banyak saya sedikit tahu cara mekanisme di gudang Bulog tersebut.

Seperti peran Bulog selama ini yang hanya menjadi penyalur dari program Beras Raskin dengan program Subsidi dari pemerintah dan tidak bisa menjual kepasaran untuk mencari keuntungan yang lebih. Untuk bersaing dengan pihak swasta untuk pembelian gabah maupun Beras petani.

Bulog masih kalah bersaing.
dengan harga beli yang jauh lebih tinggi dari pihak swasta akhirnya Bulog gagal menyerap dan membeli hasil gabah dan beras petani.dan ketika terjadi musim kemarau ( peceklik ), harga beras melambung tinggi. Sedangkan untuk Stock beras digudang bulog kurang tidak memadai ada sebagian gudang bulog yang kosong.

Karena dengan yang diterapkan untuk pembelian beras petani dengan SOP yang sangat ketat seperti pembelian beras Medium dengan kadar air 13,5%, Broken ( patahan ) 20% dan menir 2%, dengan harga sebesar Rp 9300;00 . khusus pembelian wilayah Lampung petani tidak ada yang mau menjual pihak Bulog.

Karena Untuk aturan SOP yang diterapkan oleh Bulog yang begitu ketat seperti itu, hanya penggilingan padi ( PP ) yang sudah mutakhir saja yang bisa memproduksi beras yang sesuai SOP Bulog. Sedang kita tahu untuk penggilingan padi punya petani rata- rata sudah usang dan ketinggalan teknologi.

Resiko yang terberat adalah ketika beras dibawa ke gudang untuk dijual ke Bulog, dengan menggunakan kendaraan, setelah dianalisa ternyata beras tidak memenuhi standar SOP. tentu saja pihak Bulog tidak mau membeli dan ini kerugian yang sangat besar bagi petani.untuk membawa beras itu kembali.makanya petani berpikir seribu kali untuk menjual berasnya ke Bulog. Selain SOPnya sangat ketat juga harganya begitu murah.

Akibat dari semua itu perum Bulog khususnya di Lampung menjadi mati suri. Seperti pepatah mengatakan hidup segan mati tak mau.

Bulog yang diandalkan oleh negara menjadi garda terdepan ketahanan pangan nasional. Tidak bisa berkutik dan ini sangat berbahaya sekali bagi kehidupan berbangsa. Karena pangan adalah salah satu yang vital untuk kelangsungan suatu negara.

Pada tahun 2023 Menurut data Indonesia mengimpor beras lebih dari lima juta ton.dari negara Vietnam dan Thailand.untuk mencukupi stock pangan nasional. dimanakah Indonesiaku yang dulu terkenal dengan swasembada berasnya.

Sungguh sangat Miris sekali dan ini tentu saja tidak hanya terjadi di perum Bulog saja,akan tetapi terjadi juga di BUMN lain. Maskapai Garuda selalu merugi, PLN juga merugi dan masih banyak BUMN yang merugi.

Feature ini hanya menurut kacamata pribadi saya dan berdasarkan pengalaman nyata saya. Tetapi tidak semuanya BUMN merugi tetapi banyak juga menguntungkan bagi negara kita tercinta ini.

Contohnya Pupuk Indonesia Persero holding company. yang bisa berbagi memberikan sedikit labanya untuk kegiatan- kegiatan uji kompetensi wartawan. dengan bekerja sama dengan PWI. PT Telkom Indonesia yang juga turut berpartisipasi.

Dan diakhir feature ini sedikit saran dari saya untuk pak Erick Thohir, ini sa,atnya pak Erick untuk memilah dan memilih mana BUMN yang perlu di perhatikan dan di pertahankan dan mana BUMN yang perlu dibuang atau di musnahkan. Kalau tidak menghasilkan dan menjadi beban negara.

Penulis: Syamsul Bahri
Wartawan: PWI Kabupaten lampung Timur