Perkawinan Poligami Tidaklah Senikmat Seperti Menumpahkan Sperma di Lubang yang Baru

Bagi kaum laki-laki (suami) yang berniat akan melakukan praktik perkawinan poligami kiranya perlu dipertimbangkan aspek kemadhorotannya.
Pertama; dampak psikologi istri. Secara psikologis semua istri akan merasa terganggu dan sakit hati melihat suaminya berhubungan dengan perempuan lain. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa rata-rata istri begitu mengetahui suaminya menikah lagi secara spontan mengalami perasaan depresi, stres berkepanjangan, sedih, dan kecewa bercampur satu, serta benci karena merasa telah dikhianati. Anehnya, perasaan demikian bukan hanya terjadi pada istri pertama, melainkan kedua, ketiga, dan seterusnya. Problem psikologis lainnya adalah dalam benuk konflik internal dalam keluarga, baik diantara sesama istri, antara istri dan anak tiri atau di antara anak-anak yang berlainan ibu. Ada rasa persaingan yang tidak sehat di antara istri.

Kedua, dampak psikologi anak. Perkawinan poligami juga membawa dampak buruk bagi perkembangan jiwa anak, terutama bagi anak perempuan. Perkawinan poligami menimbulkan beban psikologis yang berat bagi anak-anak. Anak malu ketika ayahnya dijuluki “tukang kawin”, sehingga timbul rasa minder dan menghindari bergaul dengan teman sebayanya. Bagi anak perempuan biasanya sulit bergaul dengan teman laki-lakinya. Kebanyakan dari anak-anak yang ayahnya berpoligami lalu mencari pelarian lain, seperti narkoba, pergaulan bebas dan sebagainya.

Sebagian masyarakat memahami nash poligami hanya secara literal tekstual. Ada yang menilai bahwa poligami adalah ajaran Islam, ada yang mengatakan poligami adalah sunah Nabi. Banyak yang mengira poligami itu baru dikenal setelah Islam, mereka menganggap Islamlah yang membawa ajaran tentang poligami, bahkan, secara ekstrim berpendapat bahwa jika bukan karena Islam, poligami tidak dikenal dalam sejarah manusia. Secara historis, poligami dipraktekan jauh sebelum Islam diwahyukan. Poligami dipraktekan secara luas di kalangan masyarakat Yunani, Persia, dan Mesir kuno. Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakatnya telah mempraktekan poligami yang tak terbatas.

Ketika Islam datang, kebiasaan poligami itu tidak serta merta dihapuskan. Namun, setelah ayat yang menyinggung soal poligami diwahyukan, Islam memodifikasikan perkawin poligami tersebut.
Modifikasi Islam terhadap perkawinan poligami terlihat pada 2 (dua) hal: Pertama: Islam membatasi jumlah istri hanya empat orang, padahal di masa Jahiliyah orang Arab boleh menikahi sebanyak-banyaknya. Kedua: Islam membatasi poligami dengan syarat yang amat ketat, yaitu kemampuan berlaku adil di antara para istri, dan jika syarat ini yang dipakai tampaknya mustahil ada orang selain Rasul yang dapat memenuhinya. Ketiga, perkawinan poligami membawa misi perlindungan terhadap janda-janda tua miskin dan anak yatim yang terlantar. Pembatasan jumlah istri hanya empat orang dari jumlah yang tidak terbatas dan persyaratan adil dipandang sebagai perubahan yang sangat radikal yang dibawa Islam. Spirit yang hendak disampaikan dengan modifikasi tersebut sesungguhnya adalah, bahwa Islam mengarahkan pada perkawinan monogami karena inilah bentuk perkawinan yang lebih sesuai dengan prinsip keadilan yang merupakan intisari ajaran Islam.

Baca Juga :  Sanggar Parfume Specialist Refill, Toko Parfum Terbaik di Lampung

Oleh: Habib Shulton A, S.H.I., S.H., M.H.
Ketua Lembaga Penelitian IAIM NU Metro Lampung

4 Komentar

  1. Misal pak Jika serang istri mrasa dirinya meminta keadilan atas permintaan suami untuk berpoligami tentang perasaan seorang istri tersebut dengan alasan istri tidak bisa melahirkan keturunan bukankah serang laki2 juga ingin merasKan memiliki keturuan bahkan semua orang ingin merasakannya lantas bagaimana pak solusi untuk kedua pihak tersebut tanpa saling menjatuhkan antar dua belah pihak yang saling berhubungan itu jika keduanya masi berfikir keras tentang apa yang mereka inginkan apakah berpisah bisa menjadi solusi untuk keduanya🙏🙏

  2. Tinggal sekarang, apakah ke depan yang akan dipidanakan adalah praktik poligami yang dilakukan tidak sesuai ketentuan UU ataukah semua bentuk poligami secara mutlak. Tentu, pilihan-pilihan ini memerlukan kajian lebih mendalam. Jika ketentuannya pidana, maka bisa jadi yang bakal terkena pidana bukan hanya laki-laki saja (suami poligam), tetapi juga perempuan yang menjadi isteri kedua dan seterusnya. Padahal, yang terakhir ini seringkali juga korban.

  3. Disitu kajiannya, memang harus ada sebab diperoleh kannya untuk berpoligami.tapi jika pada seorang istri itu tidak memiliki kecacatan ataupun penyebab yang lain,akan tetapi, ia mengizinkan suaminya untuk berpoligami meskipun tidak seperti yang dilakukan rosulullah Saw (janda) itu apa juga termasuk dalam radikal?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*